Satu Dekade SRILI: Melahirkan Penjaga HAM dan Perawat Harmoni Bumi 

Oleh Indah Wulandari

Mengenal Srikandi Lintas Iman (SRILI) masih dalam waktu relatif pendek, yaitu sekira lima tahun sudah cukup membuat kehidupan saya bermakna.

Bagaimana tidak bermakna, sedari ikut program SRILI bertajuk Literasi Media Perempuan Lintas Iman medio November 2020, beragam pengalaman dan kesempatan belajar hadir. Ketika rasa bosan melanda karena sistem kerja Working From Home (WFH) saat Pandemi, tawaran pelatihan online SRILI sangatlah menggoda.

Selang beberapa pekan, ketika tautan grup WhatsApp disebar dan pertemuan Zoom terjadi. Sub Komunitas SRILI bernama Cerita Bhinneka (CIKA) Batch 1 ini membuat saya mengenal para perempuan hebat, yang menuangkan pemikirannya ke dalam tulisan-tulisan bernas tentang pengalaman membela hak asasi manusia, kesetaraan gender, serta advokasi keberagaman agama.

Bekal ini membuka wawasan saya tentang pendekatan unik SRILI dalam menyebarluaskan semangat hidup di tengah keberagaman agama dan kultur Nusantara. SRILI membuktikan bahwa persatuan dalam keberagaman sebagai kekuatan sejati untuk menciptakan perubahan positif di tengah masyarakat.

Kehadiran SRILI bermula dari kesadaran akan urgensi isu-isu krusial yang seringkali terabaikan, yakni diskriminasi berbasis agama dan gender. Perannya makin menguat di isu tersebut lantaran anggotanya terdiri dari para perempuan tangguh dari berbagai latar belakang keyakinan, bersatu padu. Bukan untuk menghapus perbedaan, melainkan merayakan dan menggunakan perbedaan itu sebagai pondasi dasar solidaritas. Mereka menunjukkan bahwa iman, apapun bentuknya, dapat menjadi pendorong untuk aksi kemanusiaan yang konkret, bukan sebaliknya.

Dari perspektif pembelaan hak asasi manusia, SRILI pernah menyuarakan keadilan bagi kelompok-kelompok rentan dengan aktif mendampingi korban intoleransi, advokasi hak-hak minoritas, dan memastikan bahwa setiap individu memiliki hak untuk hidup damai dan bermartabat. Meski bersinggungan dengan kasus-kasus sensitif, SRILI selalu berusaha membuka ruang dialog dan mediasi, menjembatani perbedaan, dan mengupayakan solusi yang adil.

Kontribusi SRILI dalam perjuangan kesetaraan gender bisa kita lihat dari diskusi-diskusi pemahaman bahwa perempuan seringkali menjadi kelompok paling terdampak oleh ketidakadilan sosial dan konflik. Karenanya dalam kerja-kerja kemanusiaan ini dibagi ke dalam program pemberdayaan, edukasi, dan advokasi kebijakan untuk perempuan. Upaya ini untuk memastikan anggotanya memiliki akses yang sama terhadap pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan partisipasi publik.

Narasi yang terbangun bisa memperlihatkan bahwa kesetaraan gender bukanlah ancaman, melainkan prasyarat bagi kemajuan sebuah bangsa. Konsepnya menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dari berbagai agama—mulai dari konsep rahmatan lil alamin dalam Islam, tri hita karana dalam Hindu, hingga perintah untuk menjaga ciptaan dalam Kristen—semuanya menyuarakan pentingnya merawat harmoni di atas bumi. Perspektif ini tidak hanya memperkuat dasar moral manusia, tetapi juga memungkinkan mereka untuk merangkul lebih banyak pihak dalam upaya kolektif.

Seiring berjalannya waktu, SRILI juga mulai fokus pada isu perubahan iklim yang memiliki dampak multidimensional, terutama bagi perempuan dan komunitas adat. SRILI berupaya mengadvokasi kebijakan ramah lingkungan, mendorong praktik berkelanjutan, dan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Salah satu isunya antara lain, membangun kesadaran dan edukasi para perempuan tentang lingkungan hidup.

Dimulai dari diskusi internal di grup WhatsApp tentang kebiasaan sehari-hari mengelola sampah menjadi upaya tidak langsung kampanye untuk meningkatkan kesadaran anggota dan masyarakat luas tentang dampak perubahan iklim, utamanya pada perempuan. Ketika itu SRILI menjadi forum menyebarkan informasi mengenai praktik-praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari.

Contohnya ketika di grup WhatsApp SRILI ada yang menceritakan pemilahan sampah organik dan anorganik yang dimanfaatkan sebagai pupuk kompos untuk penggunaan di rumahnya, anggota lain menimpali dengan antusias.

“Plastik belanjaan saya kumpulkan untuk diberikan ke ibu-ibu bakul sayur di pasar. Kalau beli soto atau bakso saya bawa wadah kayak termos,” ketik salah satu anggota.

“Aku membatasi beli pakaian sebagai langkah untuk tidak banyak sampah kain,” cetus yang lain.

“Kami juga menampung air pembuangan AC untuk menyiram tanaman,” imbuh perempuan SRILI lainnya.

Celetukan dan kebiasaan saling berbagi pengalaman membuat anggota dalam grup kecil ini tergugah. Begitupun saya yang jadi terdorong untuk ikut memilah sampah tanpa paksaan karena ingin mencoba praktik-praktik baik yang menyebar lewat grup tadi.

Bisa kita lihat, dari ide yang dimulai hal-hal kecil tadi bisa menjadi motor penggerak Dialog Lintas Iman tentang lingkungan. Semangat anggota SRILI terpupuk karena isu lingkungan hidup seringkali memiliki dasar etika dan spiritual dalam berbagai agama sehingga cenderung mudah dipraktikkan mulai dari masing-masing rumah.

SRILI secara tidak langsung memfasilitasi dialog antarumat beragama untuk mencari titik temu dalam ajaran agama mengenai pentingnya menjaga bumi dan keberlanjutan lingkungan. Pola ini bisa menjadi contoh dasar untuk aksi bersama.

Memasuki perjalanan berproses dalam satu dekade, SRILI membuktikan bahwa aktivisme lintas iman mampu menjadi kekuatan transformatif, sekaligus pendekatan holistik yang mengintegrasikan nilai-nilai perdamaian, toleransi, pemberdayaan perempuan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Di tengah polarisasi dan perpecahan, SRILI menjadi teladan bahwa perbedaan bisa menjembatani berbagai isu krusial bangsa Indonesia.

Upaya SRILI mulai mengawal isu perubahan iklim dengan memberikan keteladanan dalam menjaga lingkungan menginspirasi saya untuk menjajal masuk komunitas internasional berbasis perempuan bernama Gender and Climate Champions Academy. Anggotanya berasal dari kalangan aktivis perempuan di bidang lingkungan hidup kawasan Asia Pasifik.

Dari SRILI, saya belajar ilmu untuk berani mengembangkan ide-ide kecil menjadi konsep kolaboratif. Tantangan merawat pemikiran harmoni lintas iman dengan lingkungan hidup di masa depan tentu akan terus ada, dengan langkah awal membangkitkan kesadaran untuk mencegah dampak perubahan iklim.

Berbekal pengalaman tadi, saya tertarik menjajal mini kampanye tentang perubahan iklim serta menumbuhkan kesadaran perempuan, khususnya kaum ibu untuk berperan serta mencegah dampak perubahan iklim. Saya merasa dari gerakan kecil di grup SRILI akan bisa meluas sebagai gerakan bersama di media sosial dengan konten-konten ringan yang mudah ditiru oleh warganet untuk menjaga kelestarian lingkungan, seperti memilah sampah di rumah, atau membuat eco-enzyme.

Setelah satu dekade ini, saya berharap para anggota SRILI tetap memupuk semangat kebersamaan dan komitmen, agar SRILI senantiasa mampu berupaya menjadi garda terdepan dalam menjaga hak asasi manusia, memperjuangkan kesetaraan gender, dan merawat bumi. Agar ketika melalui dekade berikutnya, akan lebih banyak lagi kerja-kerja lintas iman yang bernapas kebaikan dan kemanusiaan. Semoga!