
Aku hidup di lingkungan pesantren yang sangat kental dengan ajaran Islam dan budaya NU. Bapakku lulusan pondok pesantren dan Ibu hidup 13 tahun di pesantren juga. Aku dididik keras sejak kecil. Aku masih ingat ketika aku tidak mau shalat ataupun ketika belajar membaca Al-Qur’an salah, Bapak tak segan memukulku dengan sapu maupun tasbih.
Hampir semua saudaraku mengenyam pendidikan di pondok pesantren dan ibuku seorang penghafal Al-Qur’an. Lengkaplah sudah Islam melekat di tubuh dan kehidupanku.
Aku baru mengenal agama lain sewaktu SMP. Bapakku mempunyai organisasi antar agama yang mengharuskan beliau bertemu orang dari berbagai macam agama. Rumahku pun menjadi salah satu “basecamp” teman-teman Bapak yang beragama lain. Hubungan Bapak dengan teman-temannya yang memeluk agama lain sangat baik hingga antar keluarga juga saling mengenal akrab.
Namun, momen aku mengenal agama lain dan benar-benar berinteraksi dengan mereka adalah ketika seorang pendeta perempuan yang berasal dari Amerika menginap di rumah sekaligus pondok pesantren khusus putri, pada sekitar tahun 2000-an selama dua bulan.
Saat itu, aku belum mengetahui persis apa arti perbedaan agama. Namun, aku dan Bapakku menyambut pendeta tersebut dengan senang hati. Kami berinteraksi seperti kebanyakan orang layaknya sesama manusia. Tidak ada prasangka maupun perlakuan buruk yang kami dapatkan dari pendeta tersebut, begitu pun sebaliknya, pendeta tersebut sangat baik terhadap kami.
Setelah kunjungan dari pendeta tersebut, kunjungan saudara-saudara non-Muslim yang menginap di rumah kami makin sering. Bapak selalu menugasi aku untuk menemani keseharian mereka. Banyak kisah menarik yang membuatku makin paham bahwa persaudaraan tidak harus tumbuh dengan satu agama.
Suatu ketika, ada mahasiswa Cina yang menginap di rumah selama tiga bulan. Mahasiswa tersebut tidak beragama atau ateis. Waktu itu, kebetulan bulan Ramadan. Meskipun aku dan para santri berpuasa, kami tetap menyediakan makanan untuk mahasiswa tersebut. Sampai, tiba saatnya dia harus pulang ke Cina, dia merasa senang sekaligus terharu. Katanya, meski dia tidak beragama, tetapi diperlakukan dengan sangat baik. Dia sedih sekaligus gembira karena selama tiga bulan tinggal di rumah kami, berat badannya naik 3 kilogram, meskipun kami sedang berpuasa.
Cerita menarik juga ketika ada 3 biarawati (suster) menginap di pesantren kami selama seminggu. Mereka bercerita, awal mulanya mereka sangat takut masuk pesantren, karena setahu mereka pesantren adalah sarang teroris dan tidak ramah untuk umat non-Muslim.
Malam harinya kami saling mengobrol untuk mengenal satu sama lain. Kami pun memasak dan makan bersama di pesantren.
Esoknya, aku mengajak para suster jalan-jalan ke pasar dan ke tempat bersejarah di dekat rumah, yaitu Masjid Kotagede. Aku pun menjelaskan mengapa masjid ini berarsitektur Hindu. Yaitu untuk menghormati umat Hindu yang dahulu masih banyak yang tinggal di sekitar masjid.
Para suster tersebut juga kami ajak melihat bagaimana cara kami beribadah di masjid dan “bersenandung” shalawat di dalam masjid. Bahkan, para suster juga ikut kegiatan Bapak di luar pesantren seperti pengajian dan lain-lain. Mereka pun ikut belajar bermain hadrah, alat musik yang kami gunakan ketika kami bershalawat. Bahkan ada suster yang hafal beberapa nama Allah atau Asmaul Husna.
Selain relasi kami yang begitu hangat, ada kejadian lucu dan mungkin menegangkan. Saat itu, beberapa waktu setelah terjadinya bom Bali. Pihak kepolisian menerjunkan personelnya untuk menjaga kegiatan keagamaan, yang salah satunya misa Natal. Sebelumnya, kami memang secara rutin, terbiasa datang ke gereja saat Natal untuk menyiapkan makan siang Natal.
Saat itu, kami—sepuluh perempuan berjilbab di depan gereja menunggu usainya teman kami yang sedang beribadah misa. Beberapa orang melihat kami, polisi yang menjaga gereja pun melihat kami dengan tatapan awas, yang sangat kami pahami karena terkondisi waspada akibat peristiwa bom Bali tersebut.
Melihat situasi seperti itu, aku menghubungi temanku untuk menjemput kami di depan pintu gereja. Akhirnya, temanku datang dan menjelaskan kepada orang-orang dan polisi bahwa kami hanya relawan dari pesantren yang membantu menyiapkan makan siang Natal.
Dari semua peristiwa manis pahit itu, kami saling bertukar cerita. Salah satu suster bertanya mengapa bapakku memberi kebebasan untuk bergaul dengan agama lain, sedangkan saya perempuan yang mungkin lebih rentan kondisinya di masyarakat.
Aku pun menjelaskan bahwa dalam agama Islam, ibu adalah ciptaan Allah yang mulia. Dalam suatu hadis disebutkan bahwa ada sahabat Rasulullah yang bertanya, “Siapakah yang harus lebih dihormati? Ayah atau ibu?” Rasulullah pun menjawab, “Ibu, ibu, ibu, baru ayah.” Mendengar cerita tersebut, para suster baru paham betapa perempuan sesungguhnya memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam.
Setelah kunjungan berakhir, para biarawati tersebut mendapat pandangan yang baru tentang Islam. Islam tidak semenakutkan seperti yang ada di televisi. Mereka juga tidak menyangka bahwa ada pesantren khusus perempuan yang mau menerima para biarawati untuk tinggal dan berinteraksi dengan mereka. Bahwa perempuan Islam yang tinggal di pesantren sangat terbuka dengan umat non-Muslim.
Ada lagi cerita tentang seorang yang “kehilangan arah”. Ia tiba-tiba ingin tinggal di pesantren selama 10 hari. Dia seorang perempuan sukses yang tinggal di ibukota dengan kehidupan yang mewah dan melebihi dari cukup. Dia datang dengan latar belakang yang sangat berbeda dengan kehidupan di pesantren. Dia tidak paham dengan apa itu pesantren, bagaimana kehidupannya.
Dia tidak pernah tinggal di kamar kecil yang sangat sederhana dengan makan yang sederhana. Harus antre kamar mandi, dan harus melaksanakan piket membersihkan pesantren. Ia sangat awam dalam memahami budaya pesantren. Akan tetapi, dia sangat menikmati ketika tinggal di pesantren.
Lalu, ketika teman pesantren yang bercadar bisa tinggal di pesantren kami, beliau mendapat pengetahuan baru bahwa tidak semua yang bercadar adalah teroris. Ketika perpisahan, beliau sangat senang sekaligus sedih. Beliau memberikan kesan yang positif mengenai pesantren. Pesantren yang selama ini dia kenal di media ternyata berbeda dengan pesantren yang dia kunjungi karena mengajarkan kesederhanaan dan kebersamaan.
Dari perjumpaan-perjumpaan personal itu, akhirnya bisa mempertemukanku dengan komunitas perempuan lintas iman bernama Srikandi Lintas Iman (SRILI).
Aku bertemu teman-teman berbeda keyakinan, bahkan teman yang memiliki kekurangan atau disabilitas. Melalui SRILI, aku mendapat jejaring yang lebih luas dan mendapat perspektif baru tentang tantangan-tantangan agama minoritas di Indonesia. Aku pun bisa bercerita lebih banyak mengenai suka duka beragama di Indonesia.
Aku juga menemukan sesama perempuan di SRILI tidak hanya membahas tentang isu agama, tetapi juga isu-isu tentang kekerasan beragama yang diterima oleh perempuan atas nama agama.
SRILI telah menjadi tempat menyegarkan benak, dan bisa menyalurkan kesukaanku untuk memahami antar teman berbeda agama. SRILI membuatku bisa intermezzo dan bisa terhubung lagi dengan teman-teman satu visi misi.
Bagaimana Islam Memandang Agama Lain?
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (Q.S. Al- Isra:70).
Surat tersebut merupakan penggalan dari ayat Al-Qur’an yang artinya bahwa Allah sangat memuliakan atau mencintai umatnya walaupun mereka memiliki berbeda latar belakang ataupun budaya.
Sejarah-sejarah agama Islam menyebutkan bahwa Islam sangat terbuka dengan agama lain. Ada beberapa cerita hubungan antar agama yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW., di antaranya adalah hubungan beliau dengan pamannya Abu Thalib yang tetap berpegang teguh dengan keyakinannya meski membantu keponakannya dalam berjihad menyebarkan agama Islam. Sampai akhir hayatnya, Abu Thalib tetap memeluk agama yang diyakininya, tetapi cinta dan kasih Rasulullah SAW kepada sang paman tak pernah luntur.
Ada pula kisah yang menceritakan bahwa Rasulullah memperbolehkan umat Nasrani beribadah di Masjid Nabawi. Ketika waktu ibadah mereka tiba, mereka berdiri untuk melaksanakan shalat di Masjid Nabawi. Rasulullah SAW bersabda, “Biarkan mereka (beribadah),’ dan mereka shalat ke arah timur.”
Dan, yang paling mengesankan bagiku, adalah sejarah Islam ketika Rasulullah membuat Piagam Madinah. Perjanjian yang berisi bahwa semua masyarakat dari berbagai suku maupun agama harus saling hidup damai dan berdampingan. Bahwa semua agama maupun suku yang tinggal di wilayah Madinah membayar pajak dengan besaran yang sama tanpa dibeda-bedakan. Hal itu jelas menuntunku bahwa Islam sejatinya sangat menghormati ajaran agama lain tanpa memaksa.
Sejarah Islam menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai toleransi, hidup berdampingan bersama-sama dalam berbagai perbedaan. Maka, bergaul dan mengenal agama, kepercayaan, dan keyakinan yang berbeda; tak harus menjadi momok yang membuat kita melupakan ajaran agama sendiri. Justru sebaliknya, semakin kuat merengkuh keberagaman, menunjukkan bahwa Islam benarlah rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta.
Agama yang kupahami dan melekat dalam hidupku ternyata mampu membawa ketenangan bagi bumi dan alam, termasuk rahmat bagi aku, dan sesama perempuan di muka bumi ini.




