Lipstick Effect: Mencicil Kebahagiaan di Tengah Situasi Tidak Pasti

Oleh Annisa Khaerani

Mengapa perempuan ketagihan mengoleksi lipstik? Satu tube saja tidak cukup. Brand make up berlomba-lomba menawarkan berbagai warna, tekstur, kemasan, lengkap dengan copywriting yang menggugah. Ada yang menjadikan warna-warni lipstik sebagai perwujudan mood dan ekspresi diri. Ada pula yang ingin mengikuti saran influencer favoritnya. Tapi ada juga yang melihat lipstik sebagai small indulgences, dan alasan terakhir inilah yang ingin saya bahas.

Saya pernah ada di masa-masa menggandrungi lipstik. Saat itu, saya baru belajar menggunakan make up. Selain bedak, rasanya jenis make up yang paling mudah diaplikasikan adalah lipstik. Satu polesan saja sudah membuat rona wajah lebih hidup. Mudah dibawa dan digunakan, serta harga relatif murah membuat saya jatuh hati. Membeli lipstik bahkan menjadi ritual kecil. Jika masih ada sisa uang setelah menabung dan mencukupi kebutuhan, maka saya akan merencanakan kunjungan ke toko make up. Meskipun lebih sering window shopping, sesekali saya membawa pulang lipstik. Memang sih, koleksi lipstik saya pada akhirnya tidak banyak, karena saya juga tidak nyaman punya barang yang jarang terpakai. Tapi tak bisa dipungkiri, membeli lipstik itu kegiatan yang menyenangkan dan tidak membuat kantong jebol.

Ternyata, saya bukan satu-satunya yang merasakan hal ini. Juliet Schor, seorang professor di bidang Ekonomi dan Sosiologi mengenalkan sebuah teori yang disebut “Lipstick Effect”. Teori ini menunjukkan bahwa saat terjadi resesi ekonomi atau budgeting yang ketat, orang-orang akan tetap mencari cara mendapatkan kemewahan dengan biaya lebih terjangkau.

Seseorang mungkin tidak dapat lagi makan di restoran fancy, tetapi masih bisa membeli secangkir kopi di sebuah kafe kecil. Tas mewah dan gaun indah mungkin tidak masuk hitungan budget, tapi lipstik masih bisa dibeli. Membeli lipstik adalah tindakan kecil namun menimbulkan kepuasan emosional yang besar.

“Mereka mencari kemewahan yang terjangkau, sensasi membeli di department store yang mahal, menikmati fantasi sebagai perempuan yang cantik dan seksi, mereka membeli “harapan dalam tabung lipstik’. Kosmetik adalah pelarian dari kehidupan sehari-hari yang menjemukan.”

-Juliet Schor-

Resesi ekonomi membuat orang-orang menunda rencana-rencana besar seperti liburan ke tempat yang jauh atau investasi jangka panjang, dan beralih pada hal-hal kecil yang bisa dicapai. Bagaimanapun, manusia ingin keluar dari situasi menjemukan. Jika dengan membeli produk seseorang dapat melupakan sejenak tekanan hidup, mengapa tidak?

Berbagai brand pun membaca kebutuhan ini. Mereka mengadopsi berbagai strategi untuk memastikan produknya tetap terjangkau. Ada yang mengeluarkan “versi murah” dari produk lain yang sudah lebih dulu terkenal dan mahal. Ada yang mengemas produk andalan mereka dalam unit yang lebih kecil atau biasa disebut “versi rentengan”. Berbagai brand kemudian merayu konsumen untuk membeli produknya dengan motif: “treat yourself”; hargai dirimu, manjakan dirimu, berikan kesempatan bagi dirimu untuk mendapatkan kebahagiaan di tengah situasi yang tidak pasti.

Sama seperti Lipstick Effect, saya rasa mencicil kebahagiaan di tengah situasi hidup yang tidak pasti juga dilakoni oleh generasi sekarang. Orang-orang menyebutnya Gen Z, generasi yang dituduh memiliki perilaku finansial yang buruk. Media menampilkan para remaja sampai dewasa muda sedang mengantri jajanan viral dan kopi kekinian. Mereka juga digambarkan menghambur-hamburkan uang dengan menonton konser artis kesukaan.

Pantas tidak bisa beli rumah, uangnya malah dibuat foya-foya bukannya ditabung, begitu komentar yang muncul. Namun, apakah media juga memberitakan porsi berimbang para anak muda yang sedang mengantri lowongan kerja? Mengapa suara tentang praktik underpaid dan inflasi yang makin menggila kalah lantang? Salahkah jika generasi muda berusaha survive dengan memberi diri mereka sedikit kemewahan yang terjangkau? Pada akhirnya, semua orang akan mencari cara untuk tetap kuat dalam menjalani hidup. Kekuatan itu dapat berasal dari reward kecil yang menumbuhkan kebahagiaan. Dan tidak apa-apa, kalau hal itu datang dari satu tube lipstik.