Srikandi Lintas Iman menggelar acara Ziarah Lintas Iman pada Sabtu (30/9). Ziarah Lintas Iman kali ini mengunjungi beberapa lokasi ziarah serta silaturahmi di Klaten. Tempat yang menjadi tujuan adalah makam Sunan Bayat, Gua Maria Marganingsih, makam Mbah Lim di pondok pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti, dan Sekolah Tinggi Hindu Dharma.

Kegiatan Ziarah Lintas Iman yang baru pertama kalinya dilakukan oleh Srikandi Lintas Iman bertujuan mengenal dan memahami konsep peziarahan dalam tradisi agama yang berbeda dan mengapa tokoh tersebut penting untuk diziarahi. Menambah pengalaman spiritualitas dan inspirasi bagi para anggota Srikandi Lintas Iman yang mengikuti perziarahan.

Acara ini diikuti oleh sekitar 30 anggota Srikandi Lintas Iman. Para perempuan lintas agama dari beragam latar belakang, umur. Rombongan berangkat pada pukul 8.30 dari UKDW menuju Klaten. Perjalanan lumayan lancar. Di dalam bus, suasana begitu riuh. Itu yang terjadi bila seisi bus diisi oleh perempuan. Berbagai percakapan mengalir. Ditambah alunan lagu evergreen sampai dangdut mulai dari Betharia Sonata, Peterpan, hingga Via Vallen. Tapi menyenangkan.

Makam Sunan Pandanaran

Sampai di kawasan Makam Sunan Bayat sekitar pukul 10.00. Kompleks tersebut dipenuhi bus dan mobil yang membawa para peziarah dari berbagai daerah. Deretan lapak makanan, baju, dan oleh-oleh memenuhi seputaran kawasan makam. Sekilas, mirip situasi di terminal bus. Seorang pria membawa microphone menyambut setiap rombongan yang datang. Dia menyebutkan bus dan asal rombongan.

Seperti umumnya makam kuno dan keramat, letak makam Sunan Bayat berada di sebuah bukit. Undakan tangga berkanopi terlihat dari kejauhan. Di kanan kiri tangga terdapat lapak yang menjual beragam oleh-oleh, mulai dari tembikar, pakaian, makanan, dan lain-lain. Masyarakat sekitar juga menawarkan ojek untuk sampai ke makam sehingga tidak perlu capek menaiki ratusan anak tangga. Tarif yang mereka kenakan adalah Rp 7.000. Beberapa dari kami menggunakan jasa ojek. Ternyata jalan yang dilalui oleh ojek pun tak kalah menanjak. Dengan kemiringan 70 derajat, motor digas tanpa henti.

Gapura berbentuk candi gebang dilewati para peziarah menuju cungkup makam Sunan Bayat. Gapura tersebut berjumlah tujuh dengan nama dan arti yang berbeda-beda. Ada pendopo yang dikelilingi oleh nisan-nisan. Nisan di bagian luar cungkup kebanyakan adalah nisan para pengikuti Sunan Bayat.

Beberapa orang berpakaian beskap menjaga pintu menuju makam Sunan Bayat. Pintu makam pendek, kita harus menunduk. Di dalam cungkup terdapat beberapa makam, di mana bagian tengah merupakan makam Sunan Bayat. Makam-makam di sana terbungkus kain putih. Ukuran makam lebih panjang daripada kebanyakan makam saat ini. Makam Sunan Bayat sendiri terlindungi oleh dinding papan. Sebuah pintu pendek menjadi satu-satunya jalan. Gelap, pengap, semerbak bunga mawar dan melati. Para peziarah duduk mengelilingi dinding yang melindungi makam Sunan Bayat. Dan membaca doa ziarah kubur. Setelah itu masuk ke dalam bilik. Beberapa peziarah ada yang mengambil sejumput tanah makam untuk dibawa pulang. Mengelus-elus nisan. Berharap permohonan mereka terkabulkan. Berziarah di sana dipercaya memiliki karamah. Karamah Sunan Bayat dipercaya bisa menular kepada peziarah yang datang untuk mendoakan para wali dan keluarganya. Saat berpapasan dengan beberapa peziarah, mereka berbicara dalam bahasa Sunda, Jawa. Mengindikasikan bahwa peziarah tidak hanya dari seputaran Klaten saja.

Nama Bayat berasal dari nama daerah. Sunan Bayat sendiri lebih dikenal dengan nama Sunan Pandanaran/Pandan Arang. Nama ini sangat terkenal di kalangan masyarakat Jawa. Salah satu yang menyebarkan Islam di Jawa. Bahkan, beberapa percaya bahwa Sunan Bayat ini adalah wali kesepuluh. Ki Ageng Pandanaran ini adalah bupati pertama di Kabupaten Semarang. Tak heran, nama ini tidak asing bagi masyarakat Yogyakarta, Semarang dan sekitarnya.

Gua Maria Marganingsih

Gua Maria Marganingsih. Sebuah tempat yang ditujukan untuk berdoa. Marganingsih berarti jalan mengalirnya kasih. Sebelumnya, area Gua Maria ini adalah tanah milik sepasang suami istri bernama Max Somawihardjo dan Maria Margaretha Sukepi. Lama tidak dikarunia anak, mereka berdoa, mengetuk rahmat Tuhan dengan ikhtiar melakukan laku ziarah berjalan kaki ke Gua Maria Sendangsono dari Bayat. Ini terjadi sekitar tahun 1940-an. Doa mereka terkabul. Anak pertama lahir, kedua, seterusnya hingga mereka mendapatkan dua belas keturunan.  Anak pertama mereka menjadi pastor. Mendapat karunia dari Tuhan yang demikian besar suami istri tersebut kemudian mewakafkan tanah untuk menjadi tempat berdoa kepada Bunda Maria.

Di bagian depan terdapat kapel untuk berdoa. Di sana pun terdapat mata air. Agar lebih mudah mengambil air, mata air tersebut ditutup dan dipasang pompa. Melalui kran-kran, para jemaat maupun pengunjung bisa mengambil air yang terasa segar itu. Di belakang, dibuat ceruk yang menaungi patung Bunda Maria. Para jemaat yang hendak berdoa menyalakan lilin di deretan. Laku jalan salib dengan 14 peristiwa salib Kristus yang terbagi dalam tujuh teras di lereng.

Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti

Perjalanan selanjutnya menuju Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti. Pondok pesantren ini didirikan oleh KH. Moeslim Rifai’i Imampuro yang lebih dikenal dengan nama Mbah Liem. Almarhum Mbah Liem inilah yang mencetuskan “NKRI Harga Mati”. Nama pesantren ini merupakan bukti konsistensi Mbah Liem dalam mencintai dan menjaga NKRI.

Ketua Yayasan Alpansa, KH. Saifuddin Zuhri, yang akrab disapa Gus Zuhri, mengungkapkan, “Kalau konsep NKRI dan Pancasila Aman Makmur Damai itu jelas. Siapa yang berani tidak setuju dengan Pancasila, silakan keluar dari Indonesia.”

Di tengah ancaman kelompok Islam radikal, Islam transnasional menguat, mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara dan mempertanyakan relevansi Pancasila dengan Islam, kita dengan tegas menolak hal tersebut. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara sudah final. Nilai Pancasila dan Islam tidak bertentangan. Para pendiri bangsa terdahulu, juga mengedepankan aspek toleransi atas keberagaman.

Mbah Lim dimakamkan di Joglo Rumah Perdamaian. Nuansa kebangsaan dan keislaman menyatu erat di pondok pesantren tersebut. Bendera merah putih dan panji NU menaungi makam Mbah Liem. Mural dan graffiti karya para santri yang bermuatan kebangsaan dan keislaman menghiasi dinding MA.

Pada Joglo Perdamaian terdapat sebuah papan bertuliskan:

Beda agama sekalipun toh sesama hamba Allah
Sesama anak cucu eyang nabiyullah Adam As
Sesama penghuni NKRI Pancasila

Itu sebuah manifesto yang dicetuskan oleh Mbah Liem.

Di pesantren ini, selain belajar ilmu agama, para santri juga diajarkan semangat dan rasa cinta tanah air. Sebab cinta tanah air merupakan bagian dari iman. Hubbul wathan minal iman.

Sekolah Tinggi Hindu Dharma

Ziarah diakhiri dengan mengunjungi Sekolah Tinggi Hindu Dharma. Untuk mengenal lebih jauh satu-satunya sekolah di Jawa yang mencetak tenaga pendidik yang terkait upaya membina umat Hindu. Di sana ada pertemuan dengan Forum Kerjasama Umat Beriman. Berlangsung juga diskusi tentang pandangan agama-agama mengenai ziarah dan tradisi upacara kematian.

Ziarah bisa dikatakan piknik yang mengandung nilai agama. Ada esensi sakralitas. Dalam Kristen, ziarah biasanya mengunjungi Yerusalem. Seperti halnya perdebatan di kalangan muslim soal ziarah. Di dalam Kristen sendiri pun terdapat perbedaan pandangan mengenai kegiatan ziarah ini.

Yang menarik adalah soal tradisi mendoakan orang yang meninggal dalam kurun waktu 3 hari, 7 hari, 100 hari, seribu hari. Sebuah tradisi yang bersumber pada ajaran Hindu. Dalam perkembangannya, agama-agama yang masuk ke Nusantara pada masa selanjutnya, seperti Islam dan Kristen, mengadopsi tradisi tersebut. Hitungan hari masih dipertahankan, tapi ritual, prosesi yang mengikuti agama tersebut. Misal, dalam Islam membaca doa seperti surat Yasin.

Peringatan tersebut sejatinya merupakan bentuk terapi psikis kepada keluarga yang ditinggalkan. Dalam ditimpa kehilangan anggota keluarga seperti itu, dukungan sangat penting. Bahwa yang ditinggal tidak sendiri, masih punya sanak saudara, tetangga—orang lain untuk berbagi. Doa penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan dan mendoakan arwah orang yang meninggal sehingga tenang.

Putri, salah satu peserta, menuturkan kesannya setelah mengikuti acara Ziarah Lintas Iman ini. “Aku senang banget bisa ikut ke tempat ziarah. Apalagi lintas iman, belum pernah kan aku ke makam sunan panadanaran itu sama ke ponpes. Jadi bisa tahu tempat ziarah yang muslim. Tahu gimana sejarahnya ada makam tersebut.”

Perempuan yang sehari-hari bekerja di stasiun radio Retjo Buntung ini menambahkan, “Lalu yang di Ponpes Al Muttaqien Pancasila Sakti. Ada dialog sama pemiliknya yang cerita-cerita beliau bagus, menghibur, dan inspiratif mengenai Bhinneka Tunggal Ika dan sedikit cerita antara Mbah Liem dan Gus Dur. Overall, semua acara kemarin itu bermanfaat banget untuk kita para agen perdamaian. Jadi, kita bisa ceritaian ke teman-teman bagaimana merajut harmoni dalam perbedaan agama dan berinteraksi secara langsung dengan penganut agama lain. Sebagai titik pembuktian bahwa sebenarnya setiap agama mengajarkan kedamaian dan cinta kasih kepada sesama manusia, tanpa melihat perbedaan apa pun yang melekat pada dirinya.”

Semua rangkaian acara ziarah lintas iman ini ditutup dengan sesi foto-foto, wefie. Kegiatan Ziarah Lintas Iman dengan tujuan Klaten ini dilaksanakan dengan lancar. Kita tunggu ziarah lintas iman berikutnya.

Bersama 35 perempuan yang datang dari latar belakang agama dan kepercayaan, profesi dan etnis yang berbeda. Kami sepakat mengadakan ziarah ini selain utk mempelajari tentang konsep peziarahan dari masing-masing agama juga memperkuat dialog dan persaudaraan. Kami mengunjungi Makam Sunan Bayat/Pandanaran, Gua Maria Marganingsih Bayat, Ponpes Almutaqqin Pancasila Sakti (dimana ada makam Mbah Liem) dan juga ke Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten dan diakhiri dengan dialog bersama Forum Kebersamaan Umat Beriman Klaten.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *