Oleh Dilla Novita Rizki

Pada 20-23 Juli 2017 yang lalu, bertempat di Hotel Sarila, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta mengadakan kegiatan kelas advokasi tingkat dasar selama empat hari. Kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari berbagai organisasi sosial, baik akademis maupun nonakademis, antara lain PMII, HMI, Gusdurian, Plush, FILI.

Kegiatan ini bertujuan agar para pemuda dari organisasi sosial memiliki kemampuan advokasi pada isu-isu yang berkaitan dengan HAM & Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB).  Peserta kegiatan ini diharapkan dapat mengaplikasikan hasil pelatihan di lingkup organisasi masing-masing ketika menghadapi masalah penyalahgunaan HAM.

Materi-materi yang diajarkan dalam pelatihan ini antara lain tentang advokasi tingkat dasar, pemahaman tentang UUD yang mengatur tentang HAM dan KBB, bagaimana peran lembaga advokasi dalam menyelesaikan masalah di masyarakat, tantangan yang sering dihadapi.

Salah satu pemateri berasal dari Dria Manunggal. Sebuah NGO yang peduli isu difabilitas dan pemenuhan hak para difabel. Melalui materi ini peserta mendapat banyak pemahaman tentang kelompok difabel dan beberapa penyalahgunaan hak-hak mereka dalam mendapatkan aksesibilitas di rumah ibadah.

Dari peserta berjumlah 24 orang, ada empat perempuan, yaitu saya dan Ana mewakili Srikandi Lintas Iman, Ana dari IFI, dan Santi dari FILI. Hal ini cukup menarik perhatian karena sebagian besar peserta adalah laki-laki.

Perempuan diharap mampu berparsitipasi dalam menghadapi problem  sosial di masyarakat terkait kebebasan beragama dan berkeyakinan. Harapannya akan lebih banyak organisasi perempuan yang peka, sadar dan ikut berpartisipasi dalam mengadvokasi masalah yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Kami sangat berterima kasih karena telah dilibatkan dalam agenda yang diselenggarakan oleh Sobat LBH Yogyakarta karena teman-teman Srikandi Lintas Iman tidak hanya mendapatkan ilmu baru tentang advokasi, tetapi juga bisa menjalin hubungan sosial yang baik dengan teman-teman dari organisasi yang lain. Semoga ke depan, kegiatan ini menjadi langkah awal bersama para pemuda dalam menghadapi isu-isu HAM dan KBB, tidak hanya di Yogyakarta tetapi juga di wilayah lain. Semakin banyak para pemuda yang memahaminya, maka akan semakin banyak dari mereka yang terlibat di dalam kegiatan advokasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *