Oleh Misni Parjiati

Pada Sabtu (30/9) saya mengikuti ziarah lintas iman yang diselenggarakan oleh komunitas Srikandi Lintas Iman. Rute perjalanan rombongan ziarah lintas iman ini adalah makam Sunan Bayat, Gua Maria Marganingsih di Klaten, Pondok Pesantren Al Muttaqien Pancasila Sakti asuhan Gus Lim, pencetus slogan NKRI harga mati. Terakhir, ke Sekolah Tinggi Hindu Dharma.

Dalam perjalanan menuju makam Sunan Bayat, saya membaca-baca artikel berkaitan dengan Sunan Bayat. Ternyata, tempat yang diyakini sebagai makam Sunan Bayat atau Sunan Pandanaran ini tidak cuma di Bayat Klaten, tetapi juga di Semarang. Meski begitu, tidak mengurangi antusiasme peziarah dari berbagai daerah dan kalangan untuk mengunjungi makam ini.

Saya bertanya kepada salah satu teman, Mbak Indah, soal apa itu gua Maria Marganingsih. Mengapa disebut gua Maria? Bagaimana sebuah tempat bisa ditetapkan sebagai gua maria? Karena aku pernah mengunjungi sendang Sriningsih, yang juga berada di daerah Klaten. Di sana ada sebuah gua kecil yang kemudian dibangun altar pemujaan kepada Bunda Maria. Ada sebuah mata air yang dipercaya berkhasiat untuk kesehatan. Apakah harus ada penampakan Bunda Maria terlebih dulu? Sebagai pemeluk Katolik, Mbak Indah menjelaskan kepadaku bahwa Gua Maria itu sebuah sebutan. Tidak semua benar-benar gua. Ada yang berupa ceruk. Itu tempat untuk berdoa dan berkontemplasi. Suasana tenang, menyatu dengan alam biasanya memudahkan orang untuk bersinergi dengan alam sehingga lebih khusyuk berdoa. Mendengar penjelasan Mbak Indah, aku teringat Nabi Muhammad saat berada di gua Hira’. Lalu praktik tapa brata yang dilakukan para leluhur.  Tempat tenang dan sepi menstimulus otak dan jiwa lebih tenang.

Aku kemudian menyadari bahwa praktik ziarah—pilgrimage—dilakukan oleh umat dari berbagai agama dan keyakinan. Tentu dengan cara yang beragam. Ziarah adalah kata serapan Arab, yang berasal dari kata kerja yang memiliki makna “berkunjung”. Namun, dalam pengertian bahasa Indonesia kata “ziarah” tsb memiliki bobot makna sebagai: kunjungan ke tempat yg dianggap keramat atau mulia.

Dalam bahasa Inggris, kata pilgrim-peziarah-berasal dari bahasa Latin peregrinum. Bermakna ide mengembara jauh. Sebuah perjalanan yang memiliki tujuan, dan tujuannya adalah untuk menyembah Tuhan.

Tradisi ziarah, pilgrimage dimiliki oleh banyak agama dan kepercayaan. Konsep berziarah ke tempat suci sudah dikenal sejak zaman kuno. Misalnya para umat Kristiani melakukan ziarah di tanah suci Yerusalem, di Lourdes, Prancis, maupun perjalanan menuju Santiago de Compostela di Spanyol.

Melalui kegiatan ziarah lintas iman yang aku ikuti, aku mendapat perspektif baru seputar ziarah. Sebuah kata yang sangat Islam/Arab sekali. Kegiatan serupa tapi tidak sama juga dilakukan umat agama lain. Ziarah ke makam keluarga, leluhur, tempat yang dianggap mulia merupakan bentuk asah hati. Dengan berziarah ke makam keluarga, kita mengenang mereka yang telah meninggal, mengambil inspirasi dari tindakan yang mereka lakukan semasa hidup, berdoa untuk ketenangan jiwa mereka yang telah mendahului dan juga bentuk refleksi atas hidup yang masih kita rasakan ini.

Tradisi ziarah sendiri, tidak melulu identik dengan Islam. Bahkan, ini merupakan bentuk akulturasi terhadap tradisi adat yang sudah ada. Sejak dulu, sudah lazim orang melakukan tapa brata di tempat yang dianggap keramat atau mulia. Tujuannya beragam, salah satunya mencari wangsit, upaya untuk melancarkan sebuah tujuan, dan sebagainya. Tradisi ngalap berkah, dilatarbelakangi tradisi animisme dan dinamisme yang sebelumnya melekat kuat di masyarakat Nusantara. Dalam Islam, dikenal dengan istilah tabarruk. Tabaruk adalah cara mencari berkah berupa tambahan kebaikan dan pahala dengan benda atau wahyu yang barakah.

Memang masih ada perdebatan seputar tradisi tersebut.

Ziarah ke tempat yang dianggap mulia bentuk meneladani peristiwa yang terjadi di sana di masa lalu. Misal, saat berziarah di makam Sunan Bayat, bagian dari mengapresiasi peran beliau dalam penyebaran agama Islam di Jawa.

Secara keruhanian, dengan berziarah kita berusaha mendapatkan ketenangan. Sehingga lebih khusyuk dalam berdoa, berkontemplasi. Ini yang dilakukan oleh beberapa umat Katolik yang saya temui di Gua Maria Marganingsih. Setelah menyalakan lilin di depan altar mereka membuka alkitab dan membaca sejumlah puji-pujian dan doa.

Cara yang dilakukan dalam berziarah memang beragam dan berbeda-beda. Tentu doa yang dipanjatkan oleh seorang Muslim dan seorang Katolik saat berziarah berbeda. Namun, ada esensi yang sama.

Ziarah merupakan salah satu cara untuk melakukan penyucian diri. Melakukan refleksi dan kontemplasi atas kehidupan yang dijalani. Meneguhkan keimanan. Itu pula yang mendasari umat Muslim berhaji.

Memang di beberapa tempat ziarah sudah serupa dengan tempat wisata. Itu memang bagian dari wisata religi. Saya melihat spanduk yang terpasang di beberapa bus. Bus tersebut mengangkut rombongan orang yang melakukan wisata religi dari berbagai daerah. Memang keberadaan tempat ziarah yang kemudian ramai dikunjungi membawa berkah tersendiri bagi penduduk sekitar. Perekonomian terbantu. Namun begitu, dalam wisata religi ini kita mesti berhati-hati. Sebagai peziarah, bila terlalu banyak unsur wisata—bersenang-senang, mungkin akan mengurangi unsur religi, kekhusyukan. Bila kita mengunjungi tempat ibadah, tempat suci agama atau kepercayaan lain, baiknya kita lebih bertenggang rasa, tahu diri dan tahu tempat. Seperti misalnya Candi Borobudur. Bagi saya yang beragama Islam, Candi Borobudur adalah tempat bersejarah, bagian dari peradaban Nusantara. Tapi, bagi umat Buddha, candi Borobudur adalah tempat suci—ibarat Mekkah bagi umat Islam. Bahkan, dalam sejarah dituliskan bahwa banyak pendeta dari wilayah Asia lainnya datang ke Jawadwipa—sebutan untuk Jawa di masa Hindu Buddha—untuk belajar agama di Mataram. Suatu ketika saat saya berada di Candi Borobudur, ada serombongan umat Buddha dari Korea Selatan yang ingin melakukan ritual berdoa, mengelilingi stupa utama. Sayangnya, banyak pengunjung lain yang tidak awas dan toleran. Mereka tidak memberi tempat bagi para peziarah dari Korea ini. Petugas keamanan mengawal para peziarah melakukan ritual. Si petugas menghalau pengunjung lain. Namun para pengunjung ini masih cuek dan berfoto-foto di seputar stupa, tidak menghiraukan para peziarah dari Korea ini. Saat itu, saya membayangkan jika saya sedang shalat di tempat terbuka—katakanlah shalat Id di lapangan, kemudian ada seseorang yang asyik berfoto-foto, tidak ikut shalat di dekatku, tentu aku merasa agak terganggu.

Dari segi penataan lokasi tempat wisata, sebaiknya ditata lebih baik lagi sehingga tidak mengurangi kekhusyukan para peziarah.

Karena dalam ziarah lintas iman ini juga mengunjungi tempat ibadah, tempat suci umat lain, saya jadi tahu tentang liyan. Mungkin jika tidak ada acara semacam ini, sangat sedikit kesempatan saya untuk mengunjungi tempat ibadah umat lain. Saya jadi tahu sedikit banyak tentang apa saja ritual yang dilakukan, tujuan ritual, dan sebagainya. Hal ini mempertebal keimananku dan rasa toleransiku. Saya jadi menyadari, setiap umat beragama merindukan ketenangan batin. Upaya mencari ketenangan batin ditempuh dengan berbagai cara. Umat Islam punya cara sendiri, umat Kristiani pun begitu. Namun, ketenangan itu adalah kebutuhan hakiki setiap individu manusia. Bahkan orang ateis pun mencari caranya sendiri untuk mendapatkan ketenangan batin. Jadi, segala perselisihan karena perbedaan—tidak menghargai perbedaan tepatnya—sangat sia-sia menurutku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *