Sukma Wahyuni

Saat ini jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia mencapai lebih dari 121 ribu kasus lebih (data per 8 Agustus 2020). Tanda-tanda pandemi akan berakhir belum kunjung muncul. Namun, banyak sekali teori-teori konspirasi yang tidak berdasar malah meramaikan dunia virtual kita. Fenomena ini dapat dilihat sebagai harapan masyarakat luas agar pandemi Covid-19 lekas pergi. Namun, di sisi lain ini juga menunjukkan bahwa masyarakat kita belum dapat berdamai dan beradaptasi dengan keadaan saat ini.

Padahal, virus corona ini sejak awal kemunculannya memaksa masyarakat untuk terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan baru, seperti mencuci tangan secara rutin, menjaga kebersihan diri, menjaga jarak, memakai masker dan lain-lain. Kebiasaan-kebiasaan baru tersebut sebenarnya jika dicermati tidak hanya perihal kesehatan, melainkan adanya perubahan-perubahan yang signifikan pada tatanan masyarakat.

Perubahan ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Berbagai negara di dunia membuat berbagai modifikasi, termasuk perubahan dalam berinteraksi. Misalnya bersalaman ala-ala dengan mengadu siku atau kaki satu sama lain. Dalam konteks Indonesia, masyarakat yang awalnya selalu mengidentikkan bersalaman tangan sebagai simbol menyambut orang yang datang, di masa pandemi berubah menjadi hanya sekadar mengatupkan kedua tangan dari kejauhan. Selain itu, tersenyum sebagai tanda keramah-tamahan, saat ini malah harus ditutupi oleh kain masker. Bahkan shalat berjamaah yang dianjurkan untuk merapatkan badan satu sama lain mau tidak mau juga harus berubah. Fenomena semacam ini menunjukkan bahwa pandemi banyak mengubah tatanan sosial yang sudah ada dalam masyarakat.

Di sisi lain, ada yang menarik. Teman-teman pasti pernah mendengar sinetron berjudul “Suara Hati Istri” yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi. Tayangan ini setidaknya dikenal masyarakat luas melalui soundtrack khasnya Rossa “Ku menangis….membayangkan….betapa kejamnya dirimu atas diriku…”

Sinetron televisi menjadi komoditas yang semakin diminati. Hal ini tidak lepas dari dampak kebijakan #dirumahsaja beberapa lama ini. Jika teman-teman pernah menonton sinetron ini, teman-teman tentu sudah tidak asing dengan alur ceritanya. Ya, sinetron ini menceritakan penderitaan seorang perempuan yang selalu menjadi korban dalam kehidupan rumah tangganya.

Dengan berbagai skenario, sinetron ini menggambarkan kehidupan perempuan dengan berbagai persoalan kehidupan rumah tangganya. Ada yang dipoligami, diselingkuhi, diperlakukan secara tidak manusiawi dan lain-lain. Perempuan menjadi objek laki-laki dengan tindakan semena-menanya. Lebih nahas lagi, perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang nrimo dan pasrah saja.

Sinetron ini dapat dilihat sebagai representasi realitas, bahwa sebenarnya fenomena istri yang tersakiti bukanlah suatu fenomena baru di masyarakat kita, bahkan menunjukkan peningkatan dari hari ke hari.

Secara keseluruhan, persoalan-persoalan perempuan dalam rumah tangga tidak terlepas dari dampak tidak berdayanya perempuan dalam aspek ekonomi. Perempuan yang sering diperlakukan tidak adil oleh suaminya dalam sinetron “Suara Hati Istri” menunjukkan perempuan tidak berdaya sehingga ia bergantung dengan suaminya, termasuk dalam aspek ekonomi.

Konsep ketergantungan ini menimbulkan adanya usaha-usaha dominasi pihak satu terhadap pihak lainnya (dalam hal ini adalah pihak suami terhadap istri). Oleh sebab itu, suaminya dapat bertindak semena-mena terhadap istrinya karena ada relasi kuasa yang terjadi; siapa mengontrol siapa.

Selama masa pandemi ini kekerasan dalam rumah tangga terutama terhadap perempuan menunjukkan peningkatan yang signifikan. Oleh karena itu, perempuan memiliki tantangan luar biasa di masa pandemi ini sehingga dibutuhkan pemberdayaan perempuan agar menjadi lebih mandiri agar terlepas dari relasi kuasa yang tidak sehat dalam rumah tangganya. Meskipun tidak menutup kemungkinan laki-laki (suami) dalam rumah tangga juga mengalami hal serupa, karena sekali lagi ini soal relasi kuasa, siapa yang lebih kuat, dialah yang mendominasi.

Berdaya secara ekonomi jadi sangat penting sebagai upaya lepas dari relasi kuasa yang tidak imbang dan juga mendapatkan kesejahteraan yang layak. Untuk itu, Srikandi Lintas Iman mengadakan sejumlah seminar bertema pemberdayaan ekonomi.

Dalam tulisan kali ini, penulis ingin mengulas seminar kedua SRILI bertajuk “Mengelola Bisnis di Masa Pandemi: Challenges and Opportunities”. Seminar ini merupakan salah satu upaya Srikandi Lintas Iman bersama Indika Foundation menganalisis kebutuhan ekonomi masyarakat saat ini dan upaya pengentasannya. Hal ini cukup penting, mengingat aspek ekonomi sebagai elemen penting kehidupan agar dapat bertahan di situasi ini.

Dr. Mirwan Ushada, STP. M. App Life.Sc. dosen teknologi industri pertanian UGM yang menjadi salah satu narasumber dalam seminar tersebut mengungkapkan bahwa bisnis memerlukan adaptasi terhadap kondisi masyarakat yang sudah berubah. Ketidakpastian kapan pandemi selesai menuntut produsen melakukan adaptasi untuk dapat memenuhi kepuasan pelanggan pengguna jasa atau produknya. Tentunya bisnis di era pandemi memiliki tantangan yang beragam karena pandemi yang tidak diprediksi kedatangannya sebelumnya. Lebih lanjut, Dr. Mirwan menjelaskan bahwa tantangan pandemi dapat menjadi peluang besar dalam bisnis. Pernyataan ini tentu agak berlawanan dengan yang dirasakan oleh banyak orang. Banyak usaha yang tutup sehingga pengelolanya harus memikirkan strategi jitu agar dapat membuka kembali usahanya. Melalui sumber daya lokal yang tersedia di dalam masyarakat bisa menjadi tumpuan utama untuk membangun kembali perekonomian kita.

“Dalam memulai bisnis, produk utama yang ditawarkan adalah kelebihan dari produk atau jasa itu sendiri, apa perbedaannya dengan yang lain, sehingga diperlukan inovasi, baik dalam segi produk atau jasanya dan bagaimana proses produk atau jasa tersebut tersalurkan kepada konsumen,” ujarnya. “Misalnya, jika sebelum pandemi pemasaran produk menggunakan basis face to face secara langsung, diperlukan staf manajemen relasi langsung dan lain sebagainya, maka pada era ini dibutuhkan strategi pemasaran media. Penguasaan media menjadi strategi utama untuk menjangkau pasar. Dari media ini, bisnis menjangkau konsumen lebih luas dan lintas generasi. Oleh karena itu, tantangan pandemi menjadi peluang jika dapat dikelola dengan proses-proses adaptasi di atas. Sehingga, terwujud masyarakat yang berdaya dan dapat bertahan dalam segala situasi dan kondisi.”

Di akhir pemaparannya, Dr. Mirwan mengungkapkan sebenarnya, sudah menjadi tantangan baru ketika kita disebut-sebut memasuki era industri 4.0, di mana manusia saat ini dituntut untuk memaksimalkan penggunaan jejaring internet, serba digital dan paperless. Di tengah pandemi yang serba contactless ini, mau tidak mau kita harus menerapkan era 4.0 tersebut, sehingga ini merupakan salah satu hikmah pandemi.

Narasumber kedua dalam seminar tersebut adalah Asri Meikawati SE, MBA, salah satu founder produk Coklat nDalem, mempresentasikan pengalamannya dalam mengelola produknya itu. Asri Meikawati yang akrab dipanggil Meika ini berbagi inspirasi dalam proses produksi dan distribusi Coklat nDalem. Sebagai pengantar, beliau memperkenalkan produk Coklat nDalem, mulai memproduksi hingga proses packaging dan sampai ke tangan konsumen.

Coklat nDalem adalah ide yang digagas dengan mempertimbangkan potensi Indonesia sebagai salah satu negara penghasil kakao dalam jumlah besar namun belum memiliki produk cokelat unggulan. Padahal, berdasarkan riset yang dilakukan oleh Meika dan suaminya, kakao Indonesia menjadi salah satu cita rasa terbaik skala internasional. Sumber daya alam tersebut akhirnya dikelola dengan baik yang tidak terlepas dari proses pemasaran digital.

Meika dalam produksi cokelatnya, merangkul petani coklat agar bekerja sama menghasilkan cita rasa coklat yang khas. Mengingat petani cokelat yang umumnya sudah tidak muda lagi, Coklat nDalem bertekad menyejahterakan petani cokelat di samping produksi cokelatnya nan khas dan berkualitas itu. Selain itu, melalui produknya, Meika mempromosikan kebudayaan dan hal-hal autentik yang dimiliki Indonesia; khususnya kota Yogyakarta.

Hal terpenting yang perlu diingat dalam berbisnis menurut Meika adalah kolaborasi, kerja sama atau partnership untuk menjangkau konsumen nasional dan internasional. Persiapan mental dan analisis usaha disampaikan oleh Meika di akhir slide presentasinya. Memiliki mental “tahan banting”, kreatif, inovatif dan adaptif dalam berbisnis menjadi hal yang sangat penting dibarengi dengan proses terus belajar memahami konsumen dan ikhtiar.

Dari penjelasan yang disampaikan kedua narasumber tersebut, kita belajar bahwa berbisnis tidak hanya soal benefit; keuntungan material semata, melainkan proses-proses sosial yang terbangun, proses saling menyejahterakan dan menguatkan satu sama lain. Ditambah dengan adanya kondisi saat ini, menyadarkan kita bahwa dengan kebersamaan, beban berat dan sulit pun akan terasa mudah terlewati. (Sukma Wahyuni)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *